Menjadi Istrimu


Sayang,

Jam di kamar sudah menunjukkan pukul 22.40, artinya dalam beberapa jam lagi, saya akan menjadi istrimu. Menjadi bukan sekadar teman tidurmu, tapi teman berbagi segala resah dan gelisah, bahagia, suka cita. Semuanya.

Sungguh, saya nggak menyangka akan se-deg-deg-an ini. Saya pikir, ketika saya sudah mempersiapkan semuanya dengan rapi, saya bakal luput dari perasaan gelisah seperti malam ini. Itu yang tadinya saya pikir, karena kenyataannya, saya lupa kalau hati bisa bergejolak sewaktu-waktu. Mendadak saya merasa deg-degan, getaran yang lebih hebat dari yang saya prediksi sebelumnya.

Mendadak saya ingin teriak, “Edyan! Besok aku kawin!”

Siapkah saya menjadi istrimu?
Bisakah saya menjadi istri yang kamu harapkan?
Sanggupkah saya menghadapi ‘marriage rollercoaster’ yang pasti akan terjadi dalam pernikahan kita?

‘Menjadi istrimu’, mendadak menjadi kalimat yang bikin saya merasa gugup, Sayang. Saya takut.

Bukan takut menjadi istrimu, tapi takut tidak sanggup menjadi seorang istri yang kamu tunggu sampai hampir 34 tahun lamanya.

Dan ini membuat saya terjaga. Semua kekhawatiran ini membuat saya sulit memejamkan mata.

Sampai kemudian saya ingat bahwa cinta saya buat kamu akan membuat saya melakukan yang terbaik untuk kamu, untuk anak-anak kita kelak. Kalau saya tidak sempurna sekarang; maka cinta saya buat kamu akan membuat saya berusaha menjadi sempurna.

Karena cinta saya, maka saya merasa bisa mengalahkan ketakutan-ketakutan saya.

Oleh karena itu, Sayang, malam ini, pukul sebelas malam, 10 jam menjelang janjimu di hadapan kakak lelakiku, saya tidak lagi takut dengan kata ‘menjadi istrimu’.

‘Menjadi istrimu’, tidak lagi berwujud ketakutan pada masa depan.

Kini, ‘menjadi istrimu’ berarti akhirnya memiliki lelaki terbaik yang Tuhan pilihkan untuk peneman hidup di sepanjang usia saya.

Dan, Sayang, saya adalah perempuan beruntung karena akan menjadi seorang istri dari lelaki yang paling bisa menyempurnakan ketidaksempurnaan saya.

Ah, Sayang.
Saya sudah nggak sabar untuk memulai petualangan hidup bersamamu. Sampai jumpa besok, ya? Tuhan melindungi tidurmu dan perjalananmu menuju rumah saya, esok pagi.

Sekarang, mumpung deg-degannya sedang pergi, saya mau pamit tidur dulu, ya?

I love you, Ardyan Novanto Arnowo.

Saya mencintaimu, lebih banyak dari yang kamu tahu.

-Lala Purwono-
Calon Istrimu

Advertisements

One thought on “Menjadi Istrimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s