Marry you, in twenty nine days

“When I stop loving you the way I do,
there’ll be no moon to shine,
no sky of blue…” (*)

I’m gonna marry you in twenty nine days, Sayang. After a lot of ups and downs, we’re finally here. Today. Tuhan menyelamatkan kita berdua dari pertengkaran-pertengkaran yang bisa jadi memunculkan kalimat-kalimat yang akan menghantui hidup saya dan kamu. Kalimat, “Do you want to give up on me?” Atau kalimat, “You still have time to reconsider.

Those kind of sentences that will haunt my life, forever, if I actually said it and you actually replied it. Pertanyaan-pertanyaan yang akan saya sesali, sampai seumur hidup saya, jika kamu benar-benar bilang, “Ya, sebaiknya kita selesai sebelum semuanya terlanjur lebih jauh.”

Baby, saya sungguh-sungguh bisa jadi zombie kalau itu yang terjadi. Manusia dengan hati yang mati. Sedih, karena menyesal dengan ucapan sendiri.

Jadi, di hari ke dua sembilan menuju hari kita mengikat janji, saya bersyukur karena kita terselamatkan dari pertengkaran-pertengkaran itu. Meski, ya, harus saya akui, beberapa pekan belakangan ini adalah hari-hari terberat, tapi saya beruntung hari-hari itu telah lewat.

You’re still with me, and I’m still you’re wife to be. The wedding’s still on, our relationship’s going strong. Alhamdulillah.

“When our two lips no longer cling,
there’ll be no bird to sing, there’ll be no spring.
When I stop wanting you, forever more,
there’ll be no ocean wave to kiss the shore..”

I know, mistakes will shape our lives. Kesalahan-kesalahan, yang kemudian kita ambil hikmahnya, akan menjadi pelajaran berharga buat hidup di kemudian hari. Tergelincir karena nekat berjalan di lantai basah, jatuh terkilir karena terlalu cepat berlari, atau menabrak karena lupa menghentikan laju, adalah pelajaran yang akan membuat kita lebih pintar.

Just like our good fights.

They will shape our lives, if we really mean to learn something.

Saya belajar banyak dari pertengkaran-pertengkaran kita itu, Sayang. Saya menjadi tahu banyak soal kamu dan apa yang berkecamuk di dalam hatimu. Dan di setiap kita bertengkar, kamu juga melakukan hal yang sama; belajar tentang saya, menjadi tahu apa yang sedang bermain-main di dalam hati saya.

We are learning from our mistakes.

We don’t let those good fights become waste; of time and energy.

We are shaping our lives, Sayang. Sehingga saya dan kamu bisa menjadi partner yang tangguh untuk menghadapi the unpredictables, the unfortunates events that may happen in the future.

Let’s shape our lives, Baby.

But please tell me, can we still be smarter without having the fight, Sayang? Karena bagaimanapun juga, saya lebih rela kehabisan energi untuk hal lain… and you know what I mean. *wink*

Haha! Happy Friday morning, Sayang. I love you more each and every day….

“This world will crumble,
and the skies will fall,
my heart won’t speak at all,
When I stop loving you…”

**

(*) When I Stop Loving You. Frank Sinatra.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s