Marry you, in thirty days…

“It must have been, that something lovers call fate
Kept me saying: “I have to wait”
I saw them all, just couldn’t fall – ’til we met…” (*)

I’m going to marry you in thirty days, Sayang. Sungguh, sampai hari ini, sampai saya menarikan jemari di atas keyboard ini,  di pagi ini, saya masih nggak menyangka kalau saya akan menjadi istrimu. Menjadi perempuanmu. Menjadi calon ibu untuk calon anak-anakmu. Menjadi partner berbagi suka dan dukamu, sepanjang umur yang saya punya.

Dan sampai hari ini, saya masih merasa perjalanan ini sungguh di luar rencana. Seperti kereta yang berhenti tiba-tiba di depan saya lalu masinisnya menarik tangan saya, mengajak saya untuk menumpangnya. Kereta yang tidak pernah saya sangka akan mengantarkan saya menujumu, menuju hatimu. Saya bahkan tidak memegang tiketnya; that precious one way ticket to your heart. Oh, let me rephrase that, saya bahkan tidak berniat membeli tiketnya. Being with you wasn’t in my plan. The plan was to settle down with one true Mr Right. Dan tanpa disangka, kamulah lelaki itu, my funny good old friend from high school.

“It had to be you, it had to be you
I wandered around, and finally found – the somebody who
Could make me be true, and could make me be blue
And even be glad, just to be sad – thinking of you…”

Hidup ini lucu, ya?

Butuh lima belas tahun untuk menyadari bahwa bahumu adalah tempat paling nyaman untuk sandaran kepala saya. Lenganmu adalah lengan paling hangat yang bisa memeluk saya. Butuh lima belas tahun untuk akhirnya mengakui bahwa saya membutuhkan kamu untuk menjadi lelaki saya.

Butuh berapa kali patah hati untuk bisa bertemu denganmu, hm? Mau tahu? Butuh berapa lelaki yang harus melukai hati saya sebelum akhirnya bisa menemukan lelaki yang tepat untuk mengusir pergi semua sakit yang pernah saya rasa? Mau tahu?

Too many guys, Sayang, and I had enough.

And too many years, Sayang, and I think it’s enough.

Sekarang, saya bertemu denganmu. Setelah belasan tahun berpisah, setelah berkali-kali patah hati, lucunya hidup mempertemukan saya denganmu lagi. And you know, when you already find that special person to spend the rest of your life with, don’t you want to start ‘that rest of your life’ right away? Baby, I do. I really do.

So here I am today, counting down our big day.

In thirty days from now, you will promise to my brother, to my sister, to my Mom and Dad in heaven, that you will forever love me, stay with me, no matter how hopeless life’s gonna be. Dan saya juga akan menyimpan janji yang serupa, untukmu, bahwa saya akan selalu ada buat kamu. We keep this promise as an investment so we won’t run out of reasons why we have to stay together. Never, ever.

Tiga puluh hari lagi, saya akan menjadi istrimu. Tapi dalam tiga puluh hari, kesibukan saya dan kamu akan semakin menggila. Sehingga dalam tigapuluh hari, bisa terjadi apa saja.

Jadi, pegang tangan saya selalu, ketika kamu lelah.

Pegang tangan saya selalu, ketika hatimu resah.

Seperti saya yang akan selalu menggenggam jemarimu ketika berselimut gelisah.

I’ll marry you in thirty days, Sayang.

Saya mencintaimu. Lebih  banyak dari yang kamu tahu.

Bismillah. Mari menguatkan hati bersama-sama.

“For nobody else, gave me a thrill – with all your faults, I love you still
It had to be you, wonderful you, it had to be you…”

**

* It Had to be You (Frank Sinatra)

Advertisements

2 thoughts on “Marry you, in thirty days…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s