Marriage’s Rollercoaster

Marriages aren’t designed to always be perfect, setahu saya begitu.

Marriages aren’t always about flowers and butterflies, itu yang saya tahu.

And marriages aren’t always smooth sailings, because storms may come in the way… iya, saya tahu banget.

Jadi ketika saya menjadi calon pengantin yang akan  segera menjadi nyonya dalam hitungan beberapa pekan saja, saya harus menguatkan hati saya bahwa semuanya tidak akan sesempurna yang saya bayangkan; not always happy, not perfect, not always smooth sailing. Kehidupan pernikahan saya tidak akan melulu berwarna merah muda. I know.

Tapi sebetulnya, siapa yang tidak ingin kehidupan pernikahan yang sempurna?

Siapa yang tidak ingin mempunyai kehidupan pernikahan yang baik-baik saja? Like twenty four hours, seven days a week, happy and wealthy marriage? Saya berani bertaruh, dari sepuluh perempuan, ada dua belas yang mengacungkan jarinya, dan saya adalah perempuan ketigabelas.

Saya menginginkan kehidupan pernikahan yang sempurna. Misal: nggak pernah ada masalah soal ekonomi. We can afford to buy a house, a car, we can send our children to the best school, take them to special places on the holidays. Sleep well. Eat well. Shop well. Yang terakhir itu khusus buat emaknya, sih. Haha.

Itu kalau soal ekonomi. Saya juga kepingin punya keluarga yang harmonis. Saya dan suami saling setia. Anak-anak juga nurut, nggak macem-macem, kalau nggak pinter banget ya paling nggak ranking lima di kelas. Keluarga Cemara banget, deh, minus masalah ekonominya pasti.

Sebagai seorang calon istri dan seorang perempuan yang lama melajang lalu akhirnya sebentar lagi akan masuk ke kehidupan pernikahan, adalah wajar kalau saya punya mimpi, kan? Mimpi akan pernikahan yang sempurna. Mimpi memiliki keluarga bahagia ala sinetron yang happy ending melulu di tiap episod-nya.

But then again, I always know, nothing is perfect.

Termasuk pernikahan.

There’s always a marriage’s rollercoaster.

Naik turun. Belok kanan kiri. Putar seratus delapan puluh derajat. Semua dengan kecepatan yang tinggi. Siap-siap tersentak, lalu jantungmu bergetar berantakan.

Economic will hit you. Kalau nggak, soal anak-anak. Kalau bukan anak-anak, selalu ada masanya kita akan bertengkar dengan pasangan hanya karena dia sulit meninggalkan televisi yang sedang menayangkan acara favoritnya sementara istri membutuhkan bantuan suami  di dapur. Hal-hal sederhana yang berpotensi membuat kehidupan pernikahan tak selalu merah muda.

Saya ingat adegan di film BreakUp-nya Jennifer Aniston. Setelah tinggal bersama selama dua tahun, mereka harus berpisah hanya karena si lelaki hanya membeli tiga butir jeruk dari lima jeruk yang diminta si perempuan. Akhirnya Jennifer Aniston (saya lupa namanya di situ) mengungkit kebiasaan lelaki yang berantakan, tidak peduli, dan lebih memilih main playstation daripada membantu pekerjaan rumah bersama. Sederhana, tapi bahaya banget, kan?

The reality hits me. 

Bahwa kehidupan pernikahan tidak akan selamanya mulus. Bahwa hal-hal kecil akan berpotensi menjadi besar kalau saya membiarkannya. Bahwa pernikahan yang disebut bahagia pun punya masa-masa redup.

Yang terpenting adalah, bukan soal bahagia yang harus dua puluh empat jam dalam sehari.

Tapi, dalam dua puluh empat jam sehari itu, saya harus merasa bahagia setidaknya di awal dan ujung hari. Or everytime I remember that I have a loving husband, wonderful kids, a support system that will help me get through anything in life. 

Kehidupan pernikahan saya boleh seperti menumpang roller coaster.

Tapi seperti halnya menumpang roller coaster di sebuah wahana permainan, ketika saya sudah membeli tiketnya, artinya saya harus siap duduk di dalam kursi penumpangnya. Artinya, saya sudah tahu persis resiko apa yang bakal saya hadapi. Saya harus siap diajak bermain-main dalam setiap hentakan, saya harus siap diajak berbelok-belok, naik turun, dengan kecepatan tinggi yang berpotensi bikin kepala cenut-cenut, perut mual, dan kebelet pipis, misalnya.

Once I bought the ticket, artinya saya harus siap dan tidak boleh sewaktu-waktu minta berhenti.

I have to stay there.

Get through with it.

Saya tidak boleh mundur, atau takut.

Karena seperti juga halnya menumpang roller coaster, permainan itu akan berhenti dan saya akan bisa tertawa-tawa lagi. It’s going to be a story to tell to my kids and grand kids, somedayA great one.

Jadi…

Sebuah tiket roller coaster sudah siap di tangan saya.

Sebuah roller coaster siapa menampung saya di dalamnya.

I’m not afraid.

Let’s go!

**

Advertisements

2 thoughts on “Marriage’s Rollercoaster

  1. Agreed with all your point of view, mbak… Dan yang terpenting adalah, bagaimana kita berdua pasangan tetep hands on hands and fingers on fingers menghadapi setiap tantangan yang ada dalam pernikahan… Dan satu lagi, jangaaannn mau Long Distance-naaannn mbak >.<

  2. sebuah pemikiran yang mendalam mbak, seharusnya setiap pasangan juga seharusnya berpikir sama dengan tulisan ini. tidak menyerah setelah pernikahan tetapi bertahan bersama tuk menghadapai setiap ujian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s