Home

Saya selalu punya mimpi memiliki sebuah rumah.

Sebuah rumah yang kecil, tak perlu terlalu besar. Tak perlu mewah, ala Victorian. Cukup beberapa kamar tidur untuk menampung saya, suami, dan dua anak-anak kami. Tak perlu dibatasi dinding-dinding tebal yang kokoh dan dingin, juga angkuh, tapi rumah sederhana yang hangat dengan cinta kami.

Di dalam mimpi itu, rumah itu adalah rumah berukuran kecil, dengan tiga kamar. Yang cukup luas untuk bisa memanjangkan kaki sambil menonton televisi dan mengudap cemilan. Atau bermanja-manja di ruang keluarga; saya dan suami di pelukan sofa yang empuk, melihat anak-anak kami bermain di karpet tebal yang menjaga mereka dari dinginnya lantai kayu.

Tapi, rumah impian saya itu punya halaman yang sangat luas. Kebun buah dan sayur di sebelah kiri, halaman luas penuh bunga-bunga mawar dan anggrek, kesukaan saya, di sebelah kanan. Kolam renang kecil di halaman belakang, tempat anak-anak ingin bermain-main air ketika sedang cuaca sedang panas-panasnya. Dan tak lupa, di dalam mimpi itu, rumah saya juga mempunyai sebuah gazebo. Saya berencana untuk punya kebiasaan bercengkerama berdua dengan suami, sambil minum teh di sore-sore gerimis, lalu kami berbagi cerita tentang apa saja; tentang cinta kami, tentang anak-anak kami, tentang masa depan yang sedang kami rencanakan… banyak hal. Sederhana sampai luar biasa. Di gazebo itulah, kami berbagi cerita.

Kalau saya sedang ingin libur dari pekerjaan kantor, saya bisa berakrab-akrab dengan laptop saya di teras. Sambil memandang suami bermain-main dengan anak-anak, berlari-lari dengan anjing berbulu tebal kami, berguling-guling di atas rumput sambil tertawa-tawa. Riang. Menerbitkan senyum di wajah saya. Membuat saya semakin semangat menarikan jemari di atas keyboard laptop saya.

Rumah impian saya.

Kecil, dengan halaman yang sangat luas.

Kecil, namun hangat.

Kecil, namun di situ saya bahagia.

Itu rumah impian saya, yang sampai sekarang entah kapan bisa terbeli. Dengan harga rumah yang semakin lama semakin tinggi, dengan harga lahan tanah yang tak mungkin terjangkau dengan tabungan saya, impian untuk memiliki rumah seluas itu seperti mimpi jadi selingkuhannya Prince William. It’s hard to make it come true.

Tapi kemudian saya sadar, bukan karena akhirnya saya mulai punya cara untuk merebut Prince William dari Kate Middleton, tapi saya tahu, mimpi yang tak terwujud adalah soal rumah; luasannya, bentuknya, letaknya. Hanya soal banyaknya uang yang tidak saya punya untuk bisa membeli mimpi saya sejak usia remaja.

Karena sejatinya, saya masih punya kuasa untuk mewujudkan mimpi itu.

Mimpi tentang menghabiskan waktu di sebuah rumah, dengan orang-orang yang saya cintai.

Ini bukan soal rumahnya, ini tentang dengan siapa saya menghabiskan waktu saya di tempat saya berteduh itu.

Kini, saya tak peduli lagi pada mimpi yang tak terbeli itu. Karena pada akhirnya, saya hanya ingin memiliki sebuah rumah, any kind of houses, tempat saya bisa menghabiskan waktu dengan suami dan anak-anak kami kelak. Tempat kami bisa bercengkerama sambil nonton televisi, tempat kami bisa menikmati hujan pertama yang turun di musim penghujan, tempat anak-anak bisa bermain air di halaman sambil mencuci mobil/motor saya dan suami. Sebuah rumah, dengan kamar-kamar, tempat saya menidurkan anak-anak usai mereka lelah belajar, dan saya kembali ke kamar menemui suami di atas tempat tidur, menunggu saya untuk saling berbagi cerita sampai tertidur bersama.

Rumah adalah tempat saya dan orang-orang tercinta saya.

Rumah apa saja.

Berukuran apa saja.

Saya tidak peduli, asal di dalam rumah itu ada suami saya dan anak-anak kami. And that’s my friends, the most important ingredients in my dream house…

ya, walaupun nggak nolak juga kalau dapet rejeki nomplok, ada konglomerat ngasih rumah impian saya, secara gratissss… hihi!

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s