The Wedding Ring

IMG_5888

Finally engaged!

Once upon a time, ketika saya masih muda belia dan kinyis-kinyis (uhuk!), saya pernah punya pemikiran sinis tentang cincin kawin. Kesinisan dan kesebalan saya pada cincin kawin diawali karena seorang teman yang menganggap bahwa cincin kawin itu sakral dan keramat luar biasa. Terlalu lebay!

Ceritanya gini.

Ada teman saya yang lupa pakai cincin kawin. Bukan karena sengaja, tapi saat dia membubuhkan body lotion setelah mandi, dia mencopot cincin kawinnya lalu meletakkannya di atas meja. Entah gimana, dia kemudian terburu-buru berangkat kerja, akhirnya cincin kawin  itu tertinggal di atas meja rias.

Kehebohan berlanjut.

Ketika dia akhirnya sadar kalau cincin kawinnya tertinggal, dia panik luar biasa. Saya pikir ada anaknya yang sakit atau ada kejadian penting apa di rumah, eh taunya karena cincin kawinnya lupa dia pakai!

Satu contoh kalimat paniknya seperti ini, “Aduh, Laaa… nanti kalau suamiku tau aku lupa pake cincin kawinnya.. bisa-bisa dia pikir aku mau selingkuh!”

Karena menurut teman saya, cincin kawin adalah simbol janji setia mereka pada komitmen pernikahan. Jadi kalau sampai tanggal dari jari sampai keluar rumah, ya artinya mereka nggak menghargai komitmen pernikahan yang sudah mereka buat.

Mbok yo…

Saat itu saya cuman geleng-geleng kepala. Dan saat itu pula saya seakan merapal mantra, “Cincin kawin mungkin memang simbol janji setia. Tapi bukan berarti tanpa cincin kawin artinya kita nggak ingin setia. It’s maybe a symbol of a commitment, tapi tanpa cincin kawinpun kita harus tetap setia pada janji. Period.

Sejak kejadian teman saya itu, saya bahkan punya keinginan yang lebih aneh lagi; saya nggak kepingin punya wedding ring, saya kepingin wedding bracelet! Dan selalu disambut dengan komentar beberapa orang, “Jelas ajaaa.. gram-nya kan lebih gede.. Kamu minta yang mahal aja..” Hihi! Kesannya kayak azas manfaat banget.

Tapi emang beneran, lho. Saat itu saya nggak mikir soal berapa gram emas yang dibutuhkan untuk membuat wedding bracelet, karena saya emang bukan orang yang suka memakai cincin. Saya lebih suka memakai gelang. Risih kalau pakai cincin.

….but it was five years ago 🙂

Ketika saya ketemu calon suami, ketika kami merancang pernikahan, ketika menjelang hari dia akan melamar saya, semua cita-cita saya untuk punya wedding bracelet meluntur seketika.

Yang terbayang adalah cincin, cincin, dan cincin. A perfect rock on the top of a silver or white gold ring. Tersemat di jari manis sebelah kiri; simbol keseriusan Ovan ingin menjadikan saya sebagai istrinya. Uhui banget, pokoknya.

Nah, di saat yang sama, ternyata saya seolah dihadapkan pada ke-keukeuh-an saya di masa lalu; kesinisan pada sebuah cincin kawin yang membuat teman saya heboh dan panik nggak penting karena takut disangka selingkuh padahal cuman kelupaan memakai cincin.

Kenapa begitu?

Karena Ovan nggak terbiasa memakai perhiasan (which is ini alhamdulillah banget, yaa… hehe), dan pekerjaan sehari-harinya yang sering handling hardware komputer, server, membuat cincin adalah perhiasan yang ngeribetin dan mengganggu pekerjaannya.

Uh-oh! Piye coba?

“Nanti kamu aja yang make,” kata Ovan.

Saya diem.

“Aku nggak suka pakai cincin,” lanjutnya lagi.

“Aku juga,” kata saya. “Aku nggak pernah make cincin apapun yang aku pake secara permanen. Tapi ini kan cincin kawin…”

A wedding ring is an exception. Seriwil apapun saya, buat saya, it’s a symbol of our commitment.

Dueng.

Kontradiktif banget sama kesinisan saya, kan?

“Nggak apa-apa, kan, Sayang? Ya? Ya? Nggak apa-apa, ya? Mau, kan, ya?” saya merajuk.

Dan Ovan pun menyetujuinya, meski kemudian menggoda saya, “Tapi batunya akik, ya? Kayak Tessy.”

Lalu kami tertawa.

Akhirnya, kami memutuskan untuk saling menyematkan cincin di jari manis saat Ovan datang melamar, tanggal 16 Februari kemarin.

Sampai hari ini, saya masih merasa ada yang mengganjal di jari saya karena saya emang paling rewel memakai perhiasan kecuali gelang.

Tapi sampai hari ini pula, setiap melihat cincin pertunangan saya itu, yang saya lihat adalah cinta Ovan buat saya yang (saya tahu banget) begitu luar biasa.

He loves me.

He wants me.

He needs me.

And he promised to keep his passion as long as he lives.

Efek yang sama, semoga bisa Ovan rasakan setiap saat dia melihat cincin bergrafir nama saya yang kini tersemat di jari manisnya.

Sudah satu bulan saya memakai cincin ini. Dan asal tahu aja, kepanikan teman saya berlaku juga buat saya.

“Waaahh… cincinku ketinggalan di kamar mandiiii….” dan saya pun berlari masuk ke rumah hanya untuk mengambil cincin dan menyematkan di jari. Padahal, saya sudah dalam perjalanan ke kantor.

Hahaha! Banyak banget kejadian – mulai dari ketinggalan di kamar mandi sampai terjatuh saat saya mainin cincinnya pas isengnya kumat! – yang membuat saya jadi malu-malu sendiri mengingat betapa sinisnya saya dulu terhadap cincin kawin.

Hm…

Intinya gini aja, deh.

Cincin memang simbol tentang setia dan cinta.

Hati memang tempat mengupayakan kesetiaan dan cinta itu.

Tapi kalau saya bisa memiliki keduanya, kenapa tidak, kan? 🙂

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s