Kalau Saja Masih Ada Mami

Di suatu malam, ketika saya sedang merancang hari pernikahan saya, mencorat-coret buku catatan ‘My Wedding Details’, mendadak saya nangis.

Nangis yang benar-benar nangis.

Sampai tersedu-sedu.

Bukan karena mendadak saya ingat kalau jumlah uang di tabungan saya tidak bakal cukup untuk mewujudkan pesta pernikahan impian saya (ini juga nangis, sih, tapi versi lebih ngenes dan lebay! Hihi), tapi lebih karena mendadak saya ingat Mami.

Iya, Mami. Perempuan yang paling saya sayangi dan harus berpulang sebelas tahun yang lalu, ketika saya masih berumur 22.

Malam itu, di tengah-tengah saya merancang hari bahagia saya, mendadak saya mikir, “Kalau saja masih ada Mami…”

Saya teringat kembali ketika Mami begitu antusias meski repot ketika merancang hari pernikahan kakak perempuan saya. Pun ketika merancang pesta ngunduh mantu kakak lelaki saya. Mami yang saat itu sudah mulai sakit-sakitan, tetap bersemangat ketika mempersiapkan pesta anak sulung dan tengahnya.

Dan ketika saya mengingat semua hal itu, saya langsung sedih luar biasa. Apalagi kakak perempuan saya pernah bilang seperti ini, “Dulu, Mbak terima beres. Surat-surat pengantar nikah, sudah beres. Acara siraman, midodareni, akad nikah, sampai resepsi, sudah beres. Yang Mbak urusin cuman undangan sama suvenir.”

Saya bukannya sedih karena sekarang saya musti mengurus semuanya sendiri. Dengan calon suami yang tinggal dan bekerja di luar kota, praktis saya melakukannya sendirian. Bukan karena itu, kok. Tapi karena saya merasa semua ini akan berbeda kalau saja masih ada Mami.

Bukan soal Mami yang kemudian mengambil alih semua keribetan saya itu, tapi kalau masih ada Mami, saya bisa curhat, minta pendapat, atau menangis di pangkuannya saat pikiran sudah mencapai kesumpekan tingkat dewa.

Saya sedih, karena saya kepingin bisa bermanja-manja dengan Mami, seperti calon pengantin perempuan lainnya yang bermanja-manja dengan ibunya menjelang hari pernikahan mereka.

Membeli kain kebaya, berdua.

Merancang gaun pengantin, berdua.

Mengincip makanan katering, berdua.

Lalu saat lelah, elusan lembut tangan seorang ibu di pucuk kepala akan mengusir pergi semua lelah fisik dan hati.

Saya menginginkan itu.

Saya menginginkan adanya sentuhan lembut seorang ibu untuk menenangkan perasaan saya yang belakangan seperti berlompatan di luar jalurnya.

Dan menyadari kalau saya tidak akan pernah bisa mendapatkan itu semua, perlahan-lahan, kesedihan itu membunuh saya…

I miss my mom.

Saya berharap masih ada Mami dan kami melakukan semuanya bersama-sama.

Meski sampai hari ini, saya dibantu dengan kakak-kakak saya, tetap saja berbeda. A mom is still a mother. Bukan soal fungsi, tapi soal sosoknya di hati.

Ah.

Kalau saja masih ada Mami…

Kalau saja.

Tapi tidak bisa.

Tidak akan pernah bisa…

Jadi, buat kalian-kalian, para calon pengantin perempuan yang masih berkesempatan merancang the big day bersama ibu kalian… well, be grateful. Kalian harus tahu, kalian adalah manusia-manusia yang beruntung karena masih memiliki ibu untuk berbagi semua lelah hati. Karena kalau kesempatan itu pergi, you have no idea how terribly sad it would be.

Kalau saya tidak punya kesempatan itu, kalian masih memilikinya.

Percayalah.

Bersyukurlah.

Dan berbahagialah.

Don’t bother to doubt.

Because trust me. I know…

***

Advertisements

One thought on “Kalau Saja Masih Ada Mami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s