Just Hold My Hands

Siapa yang merasa kalau merancang pernikahan itu nggak ribet? Kalau ada yang tunjuk jari, saya akan menyembah dia, deh. Salut banget! Karena dari pengalaman saya sendiri, mempersiapkan hari pernikahan itu ribetnya berkali-kali lipat daripada ngurusin pesta tahunan kantor.

As a secretary, as a personnel, saya sudah terbiasa mengatur skedul, mengatur acara farewell party, merancang acara kantor, dan banyak hal lain yang membuat saya merasa jadi seorang event organizer ketimbang personalia/sekretaris.

Nah, sekalipun sudah dibekali dengan pengalaman mengatur ini-itu, anu-inu, tetap saja ketika ngurusin hari H pernikahan, saya ruwetnya minta ampun.

Banyak faktor sih, yang membuat pikiran ruwet. Bukan hanya soal uang, tapi juga banyak hal lainnya. Yang ternyata memang membuktikan kata-kata ‘para pendahulu’ kami, “Pengantinnya sih nggak ribet, yang bikin ribet itu keluarga.”

Saya dan Ovan memang bukan pecinta pesta. Kami adalah sepasang calon pengantin yang punya konsep sederhana soal menikah.

Akad nikah. Ijab kabul. Sah. Walimahan dengan keluarga paling dekat. Lalu sorenya kami berangkat bulan madu.

Sederhana.

Tapi kenyataannya? Oh tidak. Nggak semudah itu.

Saya punya keluarga yang kepingin ini. Ovan punya keluarga yang kepingin itu. Saya dan Ovan; kami kayak calon pengantin yang kejepit di tengah-tengah banyak keinginan. Dan di saat kejepit itulah, friksi dan gesekan mulai terjadi.

Kami berantem.

Bukan karena kami sendiri, tapi imbas dari ketidakberdayaan kami. Sehingga yang ada, kami ngomel-ngomel sendiri, bermaksud curhat, tapi akhirnya memantik emosi pasangan. Yang harusnya bukan karena friksi di hubungan kami, akhirnya malah menimbulkan friksi karena kami emosi.

Berantem, lah.

Nangis lah, saya.

Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi sekali atau dua, melainkan berkali-kali. Rancangan pernikahan menjadi isu yang sangat sensitif sehingga saya sempat memutuskan untuk tidak membahasnya, sementara.

Padahal, waktu tidak mau menunggu. Semakin saya menunda untuk membahas rencana pernikahan, semakin sedikit waktu yang tersisa buat kami berdua untuk mempersiapkannya.

Saya dilema.

Mau ngebahas, takut berantem.

Nggak dibahas, nanti malah ruwet.

Dan kalau ruwet, nanti malam berantem lagi.

Nah, gimana enaknya?

Di tengah-tengah hati galau, dilema, gelisah, ruwet, panik, keedanan seperti itu, akhirnya saya memutuskan untuk mengajak Ovan berkomitmen seperti ini; that no matter how hopeless life will be, mau urusan eksternal bikin ruwet pikiran, mau seruwet apapun yang terjadi nanti, please just hold my hands. Inget kalau kami berdua saling mencintai dan membutuhkan. Dan ini adalah proses yang dialami banyak pasangan di seluruh dunia. If they can get through it, we also can do it.

Hidup di luar sana boleh berusaha membuat kami panik dan jungkir balik, tapi selama kami saling berpegangan tangan, semuanya akan baik-baik saja.

Just hold each other hands.

And always remember that we love each other.

Period.

***

Advertisements

One thought on “Just Hold My Hands

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s