Are You Ready to be a Wife?

Tanggal 16 Februari 2013, hari Sabtu, sebulan yang lalu, Ovan datang ke rumah saya. Melamar saya. Meminta saya dari kakak-kakak saya, meminta ijin mereka untuk menjadikan adik bungsu mereka sebagai pasangan hidupnya; sepanjang umur yang kami punya.

Hati saya seolah sedang gaduh bermain trampolin di dalam sana. Berlonjakan dengan riang gembira, meski nervous luar biasa. Entah bagaimana perasaan saya saat akad nikah kelak. Pas dilamar aja udah campur aduk dan pingin nangis segala, apalagi nanti. Pingsan saking bahagianya, mungkin? 🙂

Sejak dilamar, hati saya makin menggebu. Makin tidak sabar menunggu hari yang pasti bakal penuh haru.

Si bungsu kawin!

Akhirnya! 🙂

Hari memang sudah ditetapkan, tanpa hitung-hitungan Jawa. Buat kami berdua, semua hari adalah hari baik. Terlebih hari setelah gajian. Hihi. Kami malah menentukan hari ijab kabulnya berdasarkan promo tiket pesawat. Hahaha, benar-benar deh!

Sejak dilamar, resmi sudah semua kesibukan kegiatan merancang hari pernikahan dimulai. Menghubungi wedding organizers, menelepon katering, membeli seserahan, mencari contoh gaun pengantin idaman untuk diserahkan ke penjahit langganan, menghitung budget, sibuk mencari uang tambahan untuk membeli keperluan setelah menikah (TV, lemari es, tempat tidur, kompor, karpet, korden, dan teman-teman riwilnya yang lain)… blah blah blah. Sibuk!

Di saat sedang sibuk-sibuknya itu, mendadak seorang teman bertanya, “Kamu sudah siap jadi istri, kan, La?”

Saya yang sedang sibuk mengerjakan laporan di depan komputer kantor, langsung menghentikan pekerjaan saya.

‘Sudah siapkah saya menjadi istri?’

Pertanyaan itu sederhana, memang, tapi membuat saya seperti tertampar kenyataan bahwa saya ternyata lebih sibuk mempersiapkan materi dan fisik untuk menghadapi hari pernikahan, tapi tidak secara mental. Padahal, yang bakal jadi a-life-changing-moment adalah ketika semua hingar bingar pesta berakhir dan saya kembali pada rutinitas; sebagai seorang Lala Purwono yang sudah menjadi seorang istri.

I will only get a day to be a queen, not a whole week, a month, a year, or a lifetime. Saya punya satu hari untuk lepas dari realita, tapi setelah hari itu berakhir, saya kembali menjadi seorang Lala dengan embel-embel ‘Nyonya’.

Lalu kemudian saya berpikir, “Sudah siapkah saya menjadi istri?”

Apalagi teman saya kemudian menambahi, “Karena kehidupan setelah pernikahan itu bakal mengubah semua orang…”

Saya ingat, ketika awal saya berpacaran dengan Ovan, banyak kebiasaan saya yang berubah. Cukup signifikan.

Kebiasaan keluyuran sepulang kerja. Kebiasaan belanja-belanja. Kebiasaan hang out sampai jam sebelas. Kebiasaan karaoke-an sampai pagi.  Kebiasaan naik angkot sambil utak atik ponsel. Kebiasaan diet nggak penting. Kebiasaan centil sama cowok (ya iyyaaallaahh!).

Banyak yang berubah.

Dan muncul kebiasaan-kebiasaan baru.

Lebih sering di dapur buat belajar masak. Membiarkan wajah tanpa make up ke kantor kecuali pensil alis dan lipstick. Pulang ke rumah sebelum jam 9 malam. Dan, mungkin, uhum, jadi lebih kalem. Nggak terlalu banyak tingkah dan ketawa ngakak berlebihan…. unless it’s really, REALLY funny 🙂

Saya bilang ke teman saya, “Sejak pacaran, aku udah banyak berubah, kok, Mbak.”

Lalu dia bilang, “Iya, karena emang HARUS berubah. Karena hidup dengan dua orang yang berbeda pola pikir, memang membuat kita harus beradaptasi. Ketika kita beradaptasi, artinya kita harus melunakkan pendapat agar bisa tetap jalan bareng.”

Saya manggut-manggut.

“Jangan kayak temenku,” lanjut teman saya tadi. “Sudah menikah, suaminya kerja di luar pulau, tapi setiap malam rumahnya selalu penuh sama teman-teman cowoknya. Mereka baru pulang jam 12 malem. Emang sih, ketika ada hal-hal yang urgent, temen-temen cowoknya itu selalu jadi yang pertama untuk membantu. Tapi, kan, ya nggak pantes juga…”

Saya manggut-manggut, lagi.

“Ketika seorang perempuan memutuskan untuk menikah dan menjadi istri, akan ada batasan-batasan yang nggak boleh dilanggar.”

Sekali lagi, saya mengamini.

Di ujung percakapan itu, teman saya mengakhirinya dengan bertanya sekali lagi, “Kamu kan orangnya rame, banyak temennya, suka hang out, jalan-jalan… Kamu udah siap, kan, jadi istri?”

Saya mengangguk.

“Iya, Mbak. Aku udah siap. I’m ready to be a wife.

Teman saya tersenyum.

Saat itu saya mensyukuri hari-hari pertengkaran saya dengan Ovan ketika dia mulai memberikan batasan-batasan pada saya; mulai dengan siapa saya hang out sampai jam berapa saya melakukannya, dan banyak hal lagi. Saya bersyukur, karena dengan begitu, saya sudah belajar menjadi seorang istri jauh sebelum saya resmi menyandang predikat tersebut.

Jadi kalau ada lagi yang nanya apakah saya sudah siap menjadi istri, saya bakal bilang, “Yes. I am ready to be a wife. And I am willing to change. Not into someone else, but into someone better.

Dan semoga, seiring dengan kesiapan mental saya menjadi istri, kesiapan material saya juga semakin mantap… Ternyata tetek bengek nikah itu mahal, Cyiiinntt… Haha!

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s