What If I’m Reproductively Challenged?

Adalah impian untuk bisa hamil lalu melahirkan buah hati tercinta sebelum perayaan ulang tahun perkawinan yang pertama. Artinya, sebulan atau dua bulan setelah nikah, perut istri sudah terisi dengan calon jabang bayi.

Memang, ada beberapa pasangan suami istri yang memutuskan untuk menunda kehadiran anak dalam perkawinan mereka. Alasannya beragam dan masing-masing alasan adalah personal. Bisa karena terikat kontrak pekerjaan, bisa karena masih terlalu muda, bisa karena belum merasa mampu menghidupi seorang anak (gaji suami kurang sementara istri belum bekerja, misalnya), bisa pula karena mereka masih belum puas pacaran. Banyak!

Tapi, persentase pasangan suami-istri yang memutuskan menunda memiliki anak tidak lebih besar daripada mereka-mereka yang berkeinginan untuk segera mendapatkan momongan. Saya berani taruhan, deh. Meski saya nggak survey ketat seperti AC Nielsen, tapi saya yakin banget kalau banyak pengantin baru yang ingin segera menimang buah hati mereka. Beneran.

Dan sebagai calon pengantin perempuan, saya adalah salah satu responden yang ingin segera memiliki momongan, sesegera mungkin. Selain memang karena saya pecinta anak-anak, kepingin tahu gimana bentuk rupa wajah anak saya dan suami, kepingin mendidik anak dengan cara yang saya inginkan, dan ya.. memang karena sudah masuk usia yang cukup rawan untuk hamil. People say, usia 30-an sudah masuk usia beresiko untuk hamil. Jadi? Ya, segera. Saya pingin segera.

But let me tell you something about myself. Saya emang bukan drama queen, ya. Mendramatisir semua hal sepele. Tapi, saya ini orang yang gampang paranoid, tentang banyak hal. Kalau kata teman-teman terdekat saya, “Lo mikirnya kepanjangan.” Alias, seringkali overthinking tentang hal-hal yang harusnya bisa sederhana, tapi saya bikin complicated.

Belum-belum saya udah mikir, “Gimana kalau saya melahirkan anak yang disable? Apa saya bisa jadi ibu yang kuat?”

Belum-belum saya udah mikir, “Gimana kalau kehamilan saya bermasalah?”

Lalu mikir, “Gimana kalau saya keguguran? Atau berhasil melahirkan tapi bayinya nggak selamat?”

Dan sampai akhirnya di pertanyaan paling penting ini, “What if I’m reproductively challenged? Gimana kalau saya infertil? Gimana kalau saya nggak bisa ngasih anak buat suami saya? Gimana kalau suami kemudian ninggalin saya karena saya nggak bisa meneruskan keturunannya?”

Eng, ing, eng!

Paranoid banget.

Saya bener-bener kepikiran. Dengan keparnoan saya yang luar biasa ini, dengan kemampuan imajinatif saya yang salah tempat seperti ini, terus terang, saya jadi nggak tenang banget. Edan, kan? Nikah aja belum, udah ketakutan duluan. Masa saya musti tes kesuburan dulu, sih? Tapi kalau akhirnya ketauan saya nggak subur, pasti saya bakal ketakutan untuk bilang sama calon suami. Dan mungkin, punya sejuta jurus untuk menunda-menunda pernikahan atau berbohong kenapa saya nggak juga hamil. Percayalah, ruwet banget!

Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk mendiskusikan hal ini dengan calon suami. Ingin menyamakan visi. Karena bagaimanapun, hal-hal semacam ini memang perlu dibicarakan. Takutnya, kalau tujuan utamanya menikah adalah untuk mendapatkan keturunan, bisa jadi saya bakal ditinggal setelah tahu kalau saya infertil. Oh, no!

Lucunya, justru Ovan yang lebih dulu menyinggung soal ini. Di suatu obrolan kami, dia nanya, “Gimana kalau nanti kita nggak bisa punya anak?”

Saya kaget. “Kok nanya gitu?”

Dia bilang, “Karena aku pingin tahu kesiapan kamu; bisa nggak nerima kenyataan kalau kita nggak diparingi anak. Soalnya, kamu keliatannya excited dan kepingin banget punya anak….”

Jawaban saya ini, “Ya, pasti sedih. Pasti sangat, sangat, sedih. Tapi, semua ini tergantung dari kamu. Aku pasti akan butuh kamu. To hold my hands, to hug me, to make me sure that everything will be alright… Aku butuh kamu untuk tetap ada di sampingku. Aku butuh kamu untuk nggak ninggalin aku, just because I’m barren.

Dengan sabarnya, Ovan bilang, “Tujuanku menikahimu bukan sekadar untuk punya anak sama kamu. Aku ingin menikahimu karena kamu membuatku menjadi manusia yang lebih baik. Because I love you. I need you.”

Saya sungguh terharu. Terlebih setelah dia bertanya lagi, “Kalau aku yang nggak subur, gimana? Will you stay?”

Kaget lah saya.

Selama ini saya selalu berpikir ‘gimana kalau saya…’ dan ‘bisakah dia…’. Saya lupa, pernikahan adalah tentang dua orang. Bukan istri atau suami saja, tapi kami berdua.

Tanpa berpikir panjang, saya menjawab, “Seperti aku yang berharap kamu selalu ada, aku bakal selalu ada buat kamu. Karena tujuanku menikahimu bukan hanya sekadar untuk melahirkan anak-anakmu dan membesarkan mereka dengan cara kita. Aku pingin nikah sama kamu karena I’ll be damned if I don’t.

Sejak saat itu, pelan-pelan ketakutan saya itu hilang. Apalagi kami punya banyak back up plans, kelak kalau sampai kami nggak dikasih kesempatan untuk mendapatkan anak dari rahim saya sendiri.

Many other ways to have a child. Adoption. Atau menjadi orang tua asuh untuk anak-anak yatim. Banyak.

Saya nggak perlu kuatir.

Selama Ovan ada di samping saya, menggenggam tangan saya penuh cinta, memberikan kekuatan supaya saya tetap tegak berdiri,  I can face anything… ANYTHING.

Ah, saya beruntung memiliki Ovan.

Karena dia mencintai saya sebagai perempuan yang bisa menjadi pasangan tangguhnya menghadapi hidup, for better for worse… dan bukan sekadar kantong rahim, tempat menampung calon anak-anaknya…

Advertisements

4 thoughts on “What If I’m Reproductively Challenged?

  1. yang terpenting dalam sebuah hubungan itu komunikasi kan mbak? Kalau semua kekhawatiran dikomunikasikan dengan baik, akan selalu ada jalan keluarnya. Hope you’ll have your ‘little angel’ very soon mbak 🙂 *setelah merid tapinya, hehehe

    • Bener. Komunikasi itu penting. Perang gede yang terjadi di seluruh dunia ini kan awalnya karena komunikasi yang buntu 🙂
      Punya anak harus setelah nikah, dear. Bisa dibunuh dan dikucilkan ke Timbuktu kalau kejadian.. hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s