Single Secret Behavior

Saya sudah menjadi perempuan lajang selama hampir tigapuluh tiga tahun. Hidup sendiri, tidur sendiri, paying my own bills, belanja untuk kebutuhan sendiri, masak-masak sesuai selera sendiri… Banyak hal yang saya lakukan sendirian. Dan saya merasa baik-baik saja.

Menjelang dilamar secara resmi oleh Ovan, saya mendadak jadi agak-agak paranoid, merasa ketakutan, “Gimana kalau Ovan nggak bisa nerima kebiasaan-kebiasaan saya semasa jadi perempuan lajang yang bebas merdeka; ngurus semua sendiri tanpa harus banyak mikirin apa kata orang lain?”

Saya menyebutnya single secret behavior; alias kebiasaan-kebiasaan lajang yang masih menjadi rahasia.

Saya inget banget, banyak yang bilang kalau setelah menikah, semuanya bakal terkuak. Buset, deh, kayak cerita misteri aja, ya. Tapi emang, kata banyak orang, ketika sudah resmi menjadi suami istri, lalu tinggal satu atap, yang tiap hari ketemu karena ‘lo-lagi-lo-lagi’, semua rahasia itu bakal terbongkar.

Gampangnya gini, deh.

Kalau semasa pacaran, kita selalu berusaha tampil cantik di depan pasangan. Paling nggak, nggak keliatan kumal, kucel, dan selalu berbau harum (kalau bisa, body spray nggak boleh ketinggalan dari dalam tas, deh).

Kalau semasa pacaran, nggak mungkin juga kita nemuin pacar pake daster. Selain emang nggak sopan, ya nggak enak juga make daster bolong-bolong di depan pacar. Dimana semua manusia di seluruh penjuru dunia tau kalau daster bolong itu baju paling nyaman sedunia akhirat! 😀

Kalau semasa pacaran, jangankan kentut, bersendawa aja sungkan. Bahkan dari yang saya lihat di Sex and The City, “Perempuan itu nggak boleh kentut di depan lelaki karena mereka berharap kita sempurna.” Set, dah!

Kalau semasa pacaran, kita agak malu untuk ngaku kalau kita bangun kesiangan sampai jam sebelas. Alasannya: takut nanti dicap cewek males. Masih belum jadi istri dan ibu aja bangun jam sebelas, mana bisa nanti nyiapin sarapan buat anak-anak sebelum berangkat ke kantor. Mati, kan?

Kalau semasa pacaran, kita juga jarang mau ngaku kalau belum bersih-bersih kamar. Padahal sebetulnya, kamar masih sangat berantakan saat kita tinggal berangkat ke kantor, karena bangun kesiangan. Sampai di rumah udah capek duluan, terus akhirnya ketiduran, nggak sempet membereskan pakaian-pakaian yang berantakan di atas kasur.

Kalau semasa pacaran, kita pingin dianggap perempuan yang hemat. Nggak mau keliatan kalau punya kebiasaan belanja. Emang sih, pas jalan bareng sama pacar, ATM dan kartu kredit kita tetap aman di dompet. Tapi, yaa… jaman sekarang, online shop memudahkan kita belanja tanpa harus ketauan banyak orang, termasuk belanja. Tancap terus, missy!

Kalau masih pacaran, mungkin nggak sempet (bahkan males) cerita soal kebiasaan kita membaca koran berlama-lama di kamar mandi saat harus you know what. Nanti kalau udah serumah, apa kabar?

Single secret behavior. Kebiasaan-kebiasaan yang sudah mendarahnadi banget selama puluhan tahun menjadi lajang yang masih menjadi rahasia, sampai tiba waktunya usai ijab kabul dan serumah dengan pacar.

Buset, deh.

Gimana bisa main rahasia, coba?

Sahabat saya pernah menggoda saya dengan bilang, “Apa nanti Ovan nggak kaget, ya, bangun-bangun liat wajahmu yang cowok banget tiap bangun tidur, La? Banci banget!” Huedyan! Sahabat apaan ituuu… 😀

Saya pun dengan geblegnya bilang, “Ya nanti aku bangun sebelum Ovan bangun. Langsung ke kamar mandi, freshen up, cuci muka… pokoknya dandan dulu dan balik ke tempat tidur. Nanti, aku bangunin Ovan pas udah siap…”

Huahaha! Niaaattt!

Tapi, sahabat saya yang lain bilang, “Waduh, apa nggak capek kalau tiap hari kayak gitu, La.. Puluhan tahun, lho…”

Haduh. Piye, coba?

Kebayang, sih, kalau harus ‘well-prepared’ sebelum suami bangun sepanjang umur perkawinan kami yang sampai selama-lamanya itu. Betapa capeknya. So exhausted. Dan.. fake banget, kan, jadinya?

Di dalam janji perkawinan, kan disebut harus menerima baik dan buruk. Harusnya nggak jadi soal, kan?

Lagipula, kalau saya punya single secret behavior, bukankah calon suami saya juga punya kebiasaan rahasia yang sama? Namanya juga manusia dan kami hidup di kenyataan, bukan sinetron-sinetron stripping yang masih make bulu mata bahkan ketika tidur!

Ya, ya. It’s life. I know it’s messy sometimes. Jadi, ya sudahlah. Jalani aja, deh. Gimana nanti aja, deh.

Tapi, um.. sampai hari ini, saya emang masih kepikiran gimana kalau nanti Ovan bisa tau kebiasaan-kebiasaan lajang saya yang mungkin nggak penting, tapi penting buat saya.

Sampai hari ini, saya emang memutuskan untuk merahasiakan single behavior saya dari Ovan.

Harapan saya, kelak, setelah ijab kabul, mudah-mudahan Ovan nggak kaget ketika melihat wajah polos tanpa make up saya tiap pagi, dengan rambut berantakan, kotoran di mata, dan nafas yang mungkin bau karena semalem lupa menyikat gigi padahal usai makan burger dengan bawang bombai seabrek-abrek.

Biar, deh, dia tahu sendiri kalau istrinya nggak secantik saat berdandan tiap kencan. Yang penting, penghulu sudah mensahkan pernikahan kami. Nanti saya siapin buku nikah saya di samping tempat tidur, kelak sewaktu-waktu saya butuh untuk ngingetin dia bahwa Ovan udah berjanji tetap mencintai saya, in better and worst.

Maaf, ya, Sayang.

Biar istrimu tingkah polahnya nggak karuan di tempat tidur dan wajahnya kucel tiap bangun tidur, nanti kalau sudah dandan, bakal cantik lagi, kok.. Serius! Butuh sepuluh menit aja, nanti udah balik normal. Kamu bobo dulu aja, ya.. Anggep aja tadi itu kamu lagi mimpi buruk… ^_*

Advertisements

4 thoughts on “Single Secret Behavior

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s