Would I Make a Great Wife?

Apa definisi istri yang sempurna?

Bisa masak?

Bisa jahit?

Pintar mengelola keuangan?

Pintar memijit pundak suami yang pegal-pegal?

Menguasai urusan domestik keluarga; mulai dari urusan belanja, bayar listrik, mencuci pakaian, menyetrika, mengepel lantai, dan lain-lain, dan sebagainya itu?

Apa definisi istri yang sempurna?

Have a hot smoking body yang siap menjadi pemuas nafsu seksual suami kapanpun diinginkan? Dan nggak boleh bilang menolak meski sedang capek?

Apakah definisi istri yang sempurna?

Seorang perempuan yang dinikahi seorang lelaki, untuk kemudian selalu sudah siap menyambut suami pulang kerja dengan pakaian yang rapi, bibir bergincu, tubuh wangi, setelah seharian menyiapkan masakan untuk makan malam suaminya tersayang?

Terus terang saja.

Saya bukan orang yang pintar masak. Tidak bisa menjahit kecuali memasang kancing baju. Bukan orang yang pintar mengelola keuangan karena malas menabung. Suka pegel sendiri kalau memijit. Belanja? Kadang-kadang aja kalau lagi pengen. Bayar listrik? Gampang kalau itu, tinggal ke ATM. Mencuci dan menyetrika? Selama ini saya males banget, sampai-sampai baru saya kerjain di tiap weekend. Dan kalau kumat males tingkat dewanya, saya akan menitipkan cucian di laundry kiloan dekat rumah. Menyapu dan mengepel rumah? Ya itu pasti, cuman kalau lagi males, suka menunda-nunda.

Soal hot smoking body, haduuhh… badan saya ini hampir selebar pintu. 🙂

Dan, saya juga seorang karyawan. Kerja pukul setengah sembilan pagi, pulang pukul setengah enam malam. Sampai di rumah, bisa jadi suami saya yang sudah sampai duluan, secara dia mengerjakan bisnisnya di rumah, tanpa perlu keluar pagar.

Nah, kalau saya kemudian seperti itu, apakah saya bisa menjadi istri yang sempurna itu tadi? Would I make a great wife? A perfect one?

One time, saya menyampaikan isi hati saya pada Ovan. Tentang keraguan saya menjadi istri yang baik buatnya. Tentang keraguan apakah saya bisa menjadi sesempurna istri-istri orang lain. Atau, ya, seperti mama-nya, atau mami saya.

Saat saya dengan bawelnya bertanya dan merajuk manja, dia menenangkan hati saya.

Dia bilang, untuk urusan bersih-bersih rumah, itu bukan urusan istri, tapi bisa dilimpahkan ke asisten rumah tangga. Atau setidaknya, nanti bisa dilakukan bersama-sama.

Dia bilang, urusan masak, toh dia nggak pernah berharap masakan saya bakal seenak masakan koki bintang lima. Bahkan nasi putih dan telor mata sapi sudah sangat enak asalkan istri memasaknya dengan hati senang dan ikhlas.

Dia juga bilang, kalau memang saya masih bekerja kantoran, dia nggak akan mempermasalahkan kalau justru dia yang menyambut saya pulang kantor. Dengan syarat: asal langsung pulang, nggak usah pake hang out yang nggak penting-penting.

Dia juga bilang, saya nggak perlu punya hot smoking body. Meskipun dia bilang, “Ya kalau sampai harus mbongkar kusen pintu, kamu sebaiknya emang harus mulai diet.” Haha!

Dan lain-lain.

Dan sebagainya.

Kalimat-kalimat Ovan sungguh menenangkan hati saya. Lagipula, apa sih kesempurnaan itu? Tidak ada orang yang sempurna. Yang ada hanyalah dua orang manusia yang memahami bahwa pasangannya bukanlah orang yang sempurna dan berkomitmen untuk menjalani hidup berumahtangga sampai menua bersama.

Tapi sejak mendengar jawaban Ovan itu pula, saya kemudian malah berusaha untuk menjadi sosok istri yang saya inginkan.

Saya belajar masak.

Meski belum seenak buatan masterchef, setidaknya saya bisa mengolah telor ayam dengan cara yang lain, bukan hanya sekadar diceplok! 🙂

Saya juga belajar menjahit. Basic aja, sih. Menjahit keliman baju, memasang kancing… ya standar darurat, lah.

Saya juga belajar untuk tidak kebanyakan hang out setelah jam kantor. Ini untuk membiasakan saya kelak ketika saya sudah resmi menjadi istri yang harus pulang on time tanpa keluyuran.

Banyak hal yang pelan-pelan saya ubah. Bukan hanya sekadar untuk menyenangkan hati Ovan, tapi untuk membuat saya percaya diri; that I am capable of being a wife.

Ini bukan soal menyenangkan orang lain, ini soal memberikan kepercayaan diri sehingga saya tidak minder terus menerus karena selalu bertanya, “Would I make a great wife?”.

Karena kalau saya nggak percaya diri, saya malah sibuk mempertanyakan diri sendiri. Dan kalau sudah sibuk untuk hal-hal yang nggak penting begitu, gimana bisa saya menjalani hidup berumahtangga saya dengan tenang?

Jadi, sudahlah.

Nobody is perfect anyway.

Tapi tidak berarti saya tidak ingin berusaha menjadi yang terbaik buat suami saya. Karena saya mencintai Ovan dan ingin membuatnya tidak menyesal karena sudah memperistri perempuan sebawel saya. Bisa bahaya nih kalau dia nyesel beneran. Haha!

Yaaahh…

Semoga Ovan membaca tulisan ini dan semakin nggak sabar untuk memperistri saya.. IHIY! 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Would I Make a Great Wife?

  1. I ♥ ur words, mba 🙂
    Cause I’m a wife to be too, like you..
    Smoga lancar smp The D Day ya mba Lala *hug*

  2. Lala, I am sure you will make a great wife as Ovan will bring the best out in you and you will bring the best out in Ovan. I wish you a lifetime of happiness. You are both smart and more importantly your hearts are in the right place…..with each other

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s