Patah Hati

Apa yang kamu rasakan ketika putus pacaran?

Sakit hati? Pasti. Sedih? Tentu. Marah? Beberapa ada yang begitu, tergantung gimana putusnya. Kecewa? Iya, karena seringkali kita berharap terlalu tinggi pada mantan pacar. Nangis? Ah, siapa yang nggak? Hati yang terluka memang nggak akan mengeluarkan darah, tapi justru membuat air mata mengalir.

Mari berhitung; sampai hari ini, berapa kali kamu putus pacaran?

Atau, berapa kali kamu patah hati karena gebetanmu ternyata lebih memilih orang lain?

Mari tengok ke belakang; se-desperate apa kamu saat itu? Semewek apa? Sehisteris apa? Semenderita apa? Segila apa? Sehebat apa mantan pacar/gebetanmu mempengaruhi hidupmu saat itu? Sebanyak apa dia menyumbang luka hatimu?

Well,

Bicara soal patah hati, bisa jadi saya adalah ahlinya. Kenapa begitu? Ya, karena saya ini memang berkali-kali patah hati. Sampai-sampai saya pernah bilang sama Tuhan, โ€œMau dengan cara apa lagi lelaki-lelaki itu bakal ninggalin saya, Tuhan?โ€

Karena, pengalaman luka hati saya cukup banyak.

Mulai dari diselingkuhin, ditinggal kawin, ternyata udah punya pacar dan saya jadi selingkuhannya, ternyata si gebetan cuman nganggep temen biasa, sampai ada yang benar-benar meninggalkan saya karena tutup usia.

Saya sudah kenyang dengan patah hati. Saya sudah kenyang nangis-nangis bombay karena lelaki. Saya sudah kenyang dengan drama putus cinta.

Awal pacaran, di usia 21 tahun, ketika putus tiga tahun kemudian, saya nangisnya gila.

Makin nambah usia, ketika putus, nangisnya berkurang.

Sampai di usia kepala tiga, saya bahkan nggak nangis, meskipun hati saya mendadak sesak.

Hidup seolah menggembleng saya menjadi perempuan yang nggak gampang sakit hati karena cinta. Buat saya, kalau emang jodoh, ya bakal dikasih. Kalau akhirnya dipisah, ya artinya dia emang bukan lelaki yang bisa menemani dan membimbing saya dunia akhirat. Sederhana. Life is complicated enough without me making another drama. Jadi, ya sudahlah. Santai saja, lah.

Setiap kali putus pacaran, saya selalu menganggap bahwa saya telah diselamatkan.

Setiap kali putus pacaran, saya selalu menganggap bahwa Tuhan tidak rela saya bersama dengan lelaki yang tidak layak untuk saya.

Setiap kali putus pacaran, saya selalu menganggap bahwa akan ada lelaki yang jauh lebih baik dan lebih menyayangi saya, kelak.

Setiap kali putus pacaran, usai menangis hebat, saya percaya kalau jodoh saya itu juga tengah melalui masa-masa sulit yang sama sebelum akhirnya kami bisa saling bertemu dan melengkapi hidup.

Itu menguatkan saya.

Membuat saya semakin yakin kalau patah hati hanya sebuah rangkaian kehidupan yang musti saya lewati sebelum akhirnya saya bertemu dengan jodoh saya.

Dan memang benar.

Akhirnya saya bertemu dengan calon suami di pertengahan tahun 2012.

Setelah melewati masa-masa gulita dan pedih karena patah hati berkali-kali, akhirnya kami bertemu untuk kemudian mengucap janji; menua bersama-sama, mulai hari ini.

Pertemuan itu semacam ganjaran untuk semua luka hati saya.

Dan ternyata, pertemuan yang sama juga semacam ganjaran untuk semua luka hati Ovan.

Perjalanan cinta kami sama-sama berat sebelum akhirnya saling bertemu. Dia pernah terluka hebat, saya pula. Dia pernah tersakiti, saya juga. Jadi, pertemuan kami kemarin, janji-janji setia yang kami ucapkan kemudian, adalah reward dari segala carut marut luka masa lalu kami berdua.

Luar biasa!

So, what I am trying to say is this.

Nikmati saja semua patah hatimu. Syukurilah semua luka hatimu. Semua itu bakal membentukmu menjadi manusia yang lebih tangguh dan tidak gampang patah arang.

Kelak, ketika kamu akhirnya bertemu dengan orang yang benar-benar kamu cintai dan benar-benar mencintaimu, kamu akan bersyukur telah putus dari lelaki-lelakimu terdahulu. Karena kalau nggak, kamu nggak bakal ketemu dengan calon suami yang benar-benar kamu cintai. Eman-eman (sayang) banget, kan?

Percayalah. Been there. Done that.

Sekarang saya bahagia banget karena sudah menemukan Ovan.

Dan semua patah hati masa lalu itu hanya sekadar cerita-cerita ringan sembari menyesap kopi panas yang malah membuat saya tersenyum setiap mengingatnya…

Advertisements

2 thoughts on “Patah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s