Ketika Berhenti Berharap

Di suatu kencan dengan kakak perempuan saya, tiba-tiba dia nyeletuk, “Akhirnya adikku bakal nikah juga, ya. Mbak kirain kamu bakal single terus sampai tua…”

Tanggapan saya saat itu cuman mesam-mesem sambil nyeruput es teh Tong Tji kesukaan saya. Percakapan itu mengambil tempat di food court sebuah mal, ketika saya dan kakak perempuan saya istirahat sejenak untuk mengganjal perut sebelum mulai belanja lagi.

“Eh tapi bener, lho. Mbak kirain kamu nggak mau nikah-nikah. Lah wong kamu kayaknya cuek gitu sama laki-laki…”

Lah piye, Mbak. Aku sendiri juga masih suprise sampai sekarang. Masih nggak nyangka kalau sebentar lagi bakal jadi istri orang. This is way beyond my expectation. Aku bahkan nggak berani berharap!”

Ya.

Saya memang nggak berani berharap terlalu tinggi; menemukan lelaki yang mencintai saya sebanyak saya mencintai dia, menemukan lelaki yang kemudian menganggap hidupnya bakal hampa tanpa saya lalu mengajak saya untuk menjadi teman hidupnya sampai tutup usia. Seriously, saya nggak berani.

Ketidakberanian itu bukannya tanpa alasan, lho.

Semua itu dimulai ketika saya capek jatuh bangun karena cinta. *dangdut banget, gak, sih? Haha!* Saya sudah mengenal pacaran sejak usia 21 tahun, tapi sampai umur tiga puluhan ini, masiiihhh aja sakit hati melulu. I was all tired looking for another man to break my heart. I was all tired looking for my super special man.

Tahun kemarin, di usia ke-32, saya bahkan ngomel gini, “It’s been eleven years of waiting. I’ve spent eleven years, dating any kind of men. It’s been eleven years already, where is he? I’m tired, God. Really.

Saya capek, jujur saja. Kelelahan saya itu kemudian memunculkan pemikiran bahwa saya tidak mau menikah dan menganggap bahwa marriage is for ordinary people and I am an extra ordinary one. Jadi, menikah bukan prioritas saya. Having best sellerbooks is. Lupakan saja wedding reception impian. Lupakan saja anak-anak yang lahir dari rahim saya. Lupakan saja. Saya adalah perempuan tangguh yang bisa hidup sendiri. Laki-laki cuman teman untuk bersenang-senang. That’s it.

Nah, dengan pemikiran yang seperti itu, gimana kakak perempuan saya nggak kuatir, coba?

Tapi mau gimana lagi. Saya sudah capek patah hati. Saya sudah capek berusaha mencari. Menikah atau nggak, biar jadi urusan nanti. Yang penting, saya bisa menerbitkan satu buku lagi. Simple!

Sebelum usia 32, setiap saat saya berdoa meminta jodoh, tahun kemarin saya berdoa supaya diberikan keikhlasan dan kelapangan hati untuk semua rencana yang Tuhan siapkan buat saya.

Sebelum usia 32, saya memohon banget untuk segera menikah. Setelah lepas usia 32, saya bilang padaNya bahwa saya percaya Tuhan akan memberikan semua rencana terbaikNya. Entah itu soal jodoh, karir, rejeki.. Apa saja. Yang terbaik.

Dan ketika saya berhenti berharap, keajaiban itu muncul.

Keajaiban bernama Ardyan Novanto Arnowo; teman dekat saya, teman saling cela-mencela saya, teman sekelas saat SMA kelas satu dan dua, teman yang selalu saya tunggu setiap lebaran tiba tapi belum pernah ketemu sampai setahun yang lalu.

Siapa yang bisa menyangka kalau saya akhirnya bertemu dengan lelaki yang bisa menggetarkan perasaan saya, bisa meyakinkan hati saya untuk menerima lamarannya, bisa menghilangkan keraguan saya akan pertanyaan, ‘apakah dia bakal jadi lelaki bajingan berikutnya?’.

Kalau teman-teman SMA saya terkaget-kaget karena saya berpacaran dengan Ovan, itu wajar banget. Lah gimana, wong saya juga kaget! Haha.

Sampai hari ini, saya tidak percaya kalau saya bakal jadi seorang istri. Saya akan melepas masa lajang. Saya akan mengakhiri status single dan menjadi Nyonya Ovan. Sungguh, ini benar-benar di luar ekspekstasi saya.

Ketika berhenti berharap, ternyata memang saya lebih legowo menerima semua rencana. Tidak ngoyo. Tidak desperate. Tidak stres sendiri.

Ketika berhenti berharap lalu tidak keliatan desperate dan stress, saya malah lebih bisa tersenyum, terlihat bahagia, dan mungkin rupanya jadi semakin terlihat menarik. Haha, mungkin, kok. Masih mungkin 🙂

Jadi, intinya, good thing comes when you least expect it. Jalani saja semua rencana dengan hati ikhlas dan bahagia. Tuhan akan memberi apa yang patut kita miilki. Berbaiksangkalah pada Sang Pencipta. Beliau tidak main-main dengan rencana yang Dia buat jauh sebelum roh menjejalah ke dalam raga.

Dan, psstt.

Asal kamu tahu.

Di saat yang sama, Ovan juga merasa semua ini begitu ajaib. Karena asal tahu saja, bertemu dengan saya, jatuh cinta, dan menginginkan saya menjadi istrinya, tidak pernah ada dalam rencananya. Sebelum bertemu dengan saya, dia bahkan sudah menyiapkan formulir untuk menjadi jomblo mutakhir sampai tua! Beneran! 🙂

See?

Ketika dia berhenti berharap, dia menemukan saya juga.

So why don’t you give it a try? Karena siapa tahu aja kamu bakal sama beruntungnya seperti kami berdua..

Advertisements

One thought on “Ketika Berhenti Berharap

  1. Menurut aku sih keajaiban menghampiri mbak Lala bukan ketika mbak berhenti berharap, tapi ketika mbak belajar ikhlas untuk menerima renana-Nya. (*read –> Setelah lepas usia 32, saya bilang padaNya bahwa saya percaya Tuhan akan memberikan semua rencana terbaikNya. Entah itu soal jodoh, karir, rejeki.. Apa saja. Yang terbaik).

    Kalimat itu tentu saja bukan keputusasaan tetapi lebih ke ikhlas dan berserah diri kepada Tuhan.
    Anyway, caongratulation mbak Lala, semoga lancar semua persiapannya, selamat karna sebentar lagi semua rasa sakit hati dimasa lalu akan terbayar dengan kata “SAH” dari penghulu. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s