Satu Kota. Beda Kode Pos

Kalau dibilang lelaki dan perempuan adalah dua makhluk yang tinggal di planet yang berbeda yaitu Mars dan Venus, saya bilang kalau mereka tinggal di planet yang sama tapi beda kelurahan, kecamatan, dan kode pos. Dengan tingkat kedekatan geografis, mereka dibesarkan dengan pola pikir yang hampir serupa, tapi cukup membuat lelaki dan perempuan punya kemampuan survival yang berbeda.

Lelaki dan perempuan lajang; di batas usia tertentu, mereka disodorkan pertanyaan yang sama dari keluarga dan orang-orang terdekat: “KAPAN KAWIN?” Pertanyaan itu mau nggak mau adalah sarapan, makan siang, makan malam, dan cemilan di kala senggang di setiap acara keluarga atau pertemuan yang dihadiri banyak kerabat.

Yang saya tahu, lelaki dan perempuan bakal punya reaksi yang sama untuk pertanyaan itu, yaitu: MIKIR.

Tapi, seperti yang tadi saya bilang, kemampuan ‘survival’ mereka sungguh berbeda.

Lelaki, biasanya bakal cuek, sekalipun tetep mikir.

Perempuan, biasanya bakal sakit hati, dan ya, overthinking.

Lelaki, biasanya cuman cengar cengir, sekalipun tetep mikir.

Perempuan… um, mana bisa? Yang ada mereka dengan segala kesebelannya, bakal ngomel dan nyampah entah di wadah social media yang mana atau ke orang-orang terdekat mereka. Mengutuk siapapun dia yang usil banget pake nanya-nanya segala tentang urusan pribadi mereka.

The exact same question with the different answers. Itu menandakan bahwa memang perempuan dan lelaki adalah penghuni bumi beda kode pos. Dengan menyadari bahwa perempuan (baca=saya) dan lelaki (baca=Ovan) adalah berbeda, lantas masihkah saya terkaget-kaget dengan perbedaan pendapat antara kami berdua?

Oh, frankly to say, masih. J

Simple thing soal makanan, make up yang tak perlu, jam malam, pergaulan, pola diet untuk menguruskan badan. Blah. Blah. Blah.

Saya bilang; makanan ini mahal, mending milih di resto yang lain. Ovan bilang; urusan perut kok masih bilang mahal. Nggak usah pura-pura kere kalau masih mampu.

Strike one.

Saya bilang; saya diet demi cantik, supaya dia bangga punya istri seperti saya. Ovan bilang; dia nggak menuntut saya untuk langsing. Saya yang sekarang sudah cukup buat dia. Kalau masih aja diet yang nggak penting sampai sakit, itu artinya saya nggak bersyukur dengan kondisi yang sekarang.

Strike two.

Saya bilang; saya mau pergi sama temen-temen, pulang kantor. Mungkin sampai rumah sekitar jam 10-an. Ovan bilang; berangkat ngantor jam setengah delapan, nyampe rumah jam sepuluh. Istirahat cuman sebentar, bangun, siap-siap ke kantor lagi. Apa nggak sayang sama badan? Kalau sakit, gimana? Apa nggak bisa acara hang outnya ditunda sampai Jumat supaya besok nggak harus bangun pagi demi ke kantor?

Strike three!

Saya tadinya ngeyel.

Makanan mahal; kan ada yang murah.

Diet ketat; kan supaya bisa tampil cantik dan langsing saat akad nikah.

Hang out sama temen kantor di hari kerja; kan saya bukan anak SD yang butuh tidur minimal delapan jam sehari supaya bisa belajar dengan baik di kelas.

Tapi dengan berjalannya waktu, saya menyadari kalau ini adalah demi kebaikan saya. Dia bukannya melarang tanpa alasan. He knows exactly what he’s doing.

Kalau perempuan ngotot diet demi menyenangkan hati pasangannya, tidak semua lelaki menuntut perempuannya untuk langsing dan muat ukuran M.

Kalau perempuan ngotot berdandan heboh demi tampil cantik, tidak semua lelaki doyan dengan perempuan yang tampil full make up dan malah menganggap itu semua adalah fake alias palsu.

Mau sampai kapanpun, perempuan dan lelaki memang tinggal di kota yang berbeda kode pos. Hidup berdampingan, tapi punya pemikiran yang boleh dibilang sangat berbeda. Hidup berdampingan, bertetangga, tapi punya pendapat yang tidak sama.

Dengan kenyataan yang seperti itu, saya sebagai perempuan yang bertetangga dengan lelaki bernama Ovan, emang sudah seharusnya bersikap sebagai tetangga yang baik: respect each other.

We may now live in a different zip code, but in the end, we’re gonna live in the same city, same zip code, the same house.

Kalau nggak dimulai dari sekarang, nggak kebayang saya bisa hidup satu rumah dengan orang yang beda banget sama saya. Like Donald Duck and his neighbour, Brutus, bisa berantem mulu tiap hari! Idih, males banget, kaaann…. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s