My Dream. His Dream.

Setiap perempuan punya pernikahan impian mereka. Mimpi itu mungkin tidak dimulai sejak usia remaja, tapi ketika hendak menikah, hampir setiap perempuan punya bayangan konsep pernikahan yang ideal.

Contohnya kayak saya ini.

Sejak mulai kenal sama urusan pacar-pacaran, saya punya mimpi tentang pernikahan saya kelak. Konsepnya adalah private garden party; tidak seserius seperti pernikahan pada umumnya, yaitu akad nikah di masjid, pindah ke gedung, duduk di pelaminan, katering melimpah ruah di penjuru gedung, tamu-tamu berjubel untuk mengucapkan selamat, lalu asyik sendiri menikmati makanan. Dan FYI, tidak semua tamunya saya kenal!

Oh, tidak.

Saya lebih menginginkan sebuah pesta resepsi yang akrab dan hangat. Akad nikah yang hanya dihadiri keluarga terdekat dan para sahabat. Lalu dilanjutkan dengan makan-makan sederhana di kebun. Dress code-nya: casually white. Artinya, semua tamu diharapkan untuk tampil kasual dengan touch of white. Sama seperti saya dan suami saya; me in simple white dress and him in white long sleeves shirt and blue jeans. Kasual. Yang saya lakukan tidak duduk di pelaminan, tapi berjalan-jalan, mingle with our guests, berakrab-akrab dengan orang-orang terdekat.. Akrab dan hangat.

With a light simple jazzy music as background, pesta resepsi saya nanti bakal sangat intim. Mereka yang hadir memang benar-benar ingin mendoakan kebahagiaan saya, bukan untuk sekadar datang untuk mencicip makanan lalu bilang, “Makanannya biasa banget, ya…”

No. No. NO.

Yang saya inginkan adalah private garden party. Sederhana, tapi bakal terkenang sepanjang sisa usia.

Sampai akhirnya saya bertemu Ovan, calon suami saya.

Saat kami merancang hari istimewa kami (yang tentu saja didominasi oleh mimpi-mimpi saya), tadinya dia tidak banyak berkomentar. Dia membiarkan saya merancang pesta kami berdua. Saya memberikan usulan tentang tempatnya, kateringnya, musiknya, pakaiannya, tamu yang diundang… blah blah blah. Awalnya dia memang diam, sampai di suatu titik dia merasa saya terlalu ‘menguasai’ hari pernikahan kami.

I was totally shock that time.

Saya pikir, urusan menyusun pesta pernikahan adalah urusan perempuan. Mempelai lelaki nggak perlu repot; cukup duduk manis dan tahu beres. Yang paling penting adalah mereka DATENG ke akad nikah dan nggak kabur sebelum ijab kabul! 🙂

Jadi ketika Ovan akhirnya ngomel dan merasa ini adalah keputusan sepihak, saya pun terkaget-kaget. Very surprised!

Saya baru tahu, kalau Ovan pun punya mimpi tentang pernikahannya.

Saya baru menyadari, kalau Ovan juga punya mimpi untuk hal yang bakal jadi sekali seumur hidupnya ini.

Saya baru memahami, kalau bagaimanapun, lelaki dan perempuan punya mimpi tentang bagaimana mereka berjanji untuk sehidup semati dengan pasangan hidupnya.

Ini bukan lagi mimpi saya.

Ini bukan lagi mimpi Ovan.

Ini adalah mimpi kami berdua; married to each other and love each other till death do us apart.

Berdua. Bukan saya. Bukan Ovan. Tapi kami berdua.

Setelah berkali-kali menghela nafas (ya, namanya juga terkaget-kaget), saya pun bilang sama dia:

I don’t care how we get married. Yang penting adalah orang yang menikahi saya. And that person is you. I want you….

Buat apa saya dan Ovan musti egois dan memaksakan perwujudan pesta impian kami kalau kami sebetulnya sudah mewujudkan mimpi-mimpi kami berdua sejak usia remaja?

Iya.

Menikahi orang yang tepat.

Membesarkan anak-anak kami berdua dengan cara yang kami inginkan.

Menghabiskan waktu dengannya sampai tamat usia.

And that’s, my friend, the ultimate dream that I want to make it come true. More than just a wedding reception that would only last for a day, this dream of mine (and him) would last forever…

Advertisements

One thought on “My Dream. His Dream.

  1. True. Saya juga punya bayang rencana pernikahan. Tapi, yang paling terbayang adalah dia di sisi saya, bahagia karna saya sudah jadi istrinya, lalu kami membicarakan anak-anak dan masa depan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s