Mr. Right (Now)

Seperti apa lelaki yang kamu impikan bakal jadi pasangan sehidup sematimu?

Sepuluh tahun yang lalu, saya bakal menjawab ini:

“Ganteng. Kaya. Baik hati. Pinter. Nggak sombong. Sayang sama keluarga. Cinta banget sama saya. Rajin sholat. Nggak merokok. Setia.”

Ya, ya, ya. ‘Catatan si Boy’ banget deh, karakternya! 🙂

Bertahun-tahun berikutnya, jawaban saya berubah menjadi ini:

Good looking. Baik. Punya penghasilan tetap. Cinta sama saya. Setia. Rajin sholat. Nggak merokok.”

Beberapa tahun sebelum hari ini, ternyata jawaban saya sudah berubah lagi menjadi ini:

“Enak dilihat, deh. Nggak malu-maluin kalau dibawa ke kondangan. Punya pekerjaan atau mau kerja keras. Cinta sama saya. Rajin sholat. Nggak merokok.”

Sampai kemudian, saya bertemu dengan Ovan. Iya, calon suami saya itu.

He’s maybe not a prince charming. Yang tampan rupawan, dengan badan atletis, berkulit putih, bertubuh tinggi besar, atau untuk mudahnya, nggak seperti Ryan Gosling. In fact, meski tidak setinggi 180cm, pelukannya tetap hangat. Meski tidak berkulit putih, tapi dia manis banget. Soal tampan? Ah, siapa bilang Ovan nggak tampan? Dia emang bukan cover-boy-look, tapi dia enak dilihat.

He’s maybe not a wealthy businessman. Yang duitnya melimpah ruah, bahkan mungkin keran air di kamar mandinya bisa jadi mengeluarkan uang dan bukannya air. Yang punya bisnis menggurita dan dia kemana-mana naik private jet untuk sekadar menghadiri thirty minutes meetings. In fact, dia masih harus bekerja sampai pagi untuk meladeni komplen, harus mengecek kerjaan di pagi buta, harus sumpek-sumpek nagih ke klien-klien yang mbalelo. Dan ya, keran air di rumahnya masih mengalirkan air, bukan uang! Ciyus inih.

He’s maybe not a poetic person like Kahlil Gibran atau Andrei Aksana. Yang bakal bermain-main dengan kata-kata romantis untuk membuai telinga saya dan menyenangkan perasaan saya. In fact, dia cenderung ceplas ceplos. Bicara apa adanya. Saya terkaget-kaget sewaktu awal-awal pacaran karena sifatnya yang cenderung meledak-ledak. He’s really a tough guy. Lelaki yang sangat keras.

He’s maybe not a saint. Yang sholat tepat waktu, yang banyak tahu soal dalil, hafal Al-Qur’an di luar kepala, yang puasa tiap Senin-Kamis. In fact, dia orang yang sangat santai. Meskipun tahu banyak soal agama, tapi dia bukan orang yang sok tahu dan sok ngajarin saya.

He’s maybe not my kind-of-guy that I would like to marry, back then when I was in my 20ish.

Tapi bukan berarti saya kemudian menurunkan standar dan menganggap bahwa dia lelaki dengan kualitas oh-okay-deh-biarpun-gitu-aja-yang-penting-mau-ngawinin-saya. Oh, nggak. Salah banget kalau menganggap saya menurunkan standar demi bisa mengakhiri masa lajang saya.

Karena sebetulnya, ini bukan soal ‘menurunkan standar’.

Ini adalah soal ‘gimana hatimu bergetar.’

Jangan mencari Mr. Right (Now); karena itu bisa jadi artinya kamu sembarangan. Carilah Mr. Right-mu, karena seperti apapun dia, apapun pekerjaannya, fisiknya, latar belakang keluarganya, sifatnya… dia disebut ‘RIGHT’ karena dia –dengan segala lebih dan kurangnya- adalah yang paling tepat buat kamu.

Dan percayalah,

Ketika kamu menemukan lelaki yang bisa menggetarkan hatimu, seluruh persyaratan itu bakal meluntur seketika. Kamu akan mentolerir beberapa hal, karena kamu terlalu mencintai pasanganmu dan nggak bisa hidup tanpanya.

Memang akan selalu ada beberapa hal yang menuntut untuk dipenuhi oleh calon pasangan. Ya, namanya juga rencana jangka (se)panjang(mungkin), jadi ya musti memberikan syarat-syarat. Cumaaannn, yang sering saya dengar, bahkan saya alami sendiri, akan ada beberapa hal saja yang tertinggal untuk wajib dipenuhi ketika hati kita sudah bergetar.

He’s single.

He knows what he’s doing.

Seiman.

Tanggung jawab.

Masalah nanti ternyata dia adalah perokok (padahal dulunya kita benci setengah mati sama perokok), kalau udah cinta, ya cinta aja.. J

Dan, ppsssttt..

Itu saya banget. Hihi!

Ya.

Ovan; he’s maybe not a perfect guy, but he’s perfect enough for an imperfect girl like me.

Dan asal tahu aja… Dia dengan gaya bicaranya yang ceplas ceplos, ternyata toh bisa merayu saya ketika kangen. Dia dengan sifatnya yang keras, toh bisa melembut ketika saya merajuk. Dan dia yang perokok berat, toh bersedia untuk tidak merokok ketika saya sedang tidak enak badan.

So don’t worry.

Find your Mr Right and don’t jump too easily for a Mr. Right (now).

You and your waiting deserve to have a perfect guy.

Seperti saya.

Yang 32 tahun mencari lelaki yang tepat buat saya dan ternyata menemukan lelaki bernama Ovan.

Lelaki yang mungkin tidak seperti lelaki di dalam impian saya di masa dulu,

Tetapi dia adalah lelaki yang mau menemani saya mewujudkan impian-impian saya.

I think that’s all that matters. Period.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s