Hollywood Proposal

Saya pecinta chick flick movies.

Dan di film-film itu, cerita tentang bagaimana seorang lelaki melamar kekasihnya seringkali tidak biasa. Bakal selalu melibatkan cincin berlian berbelas-belas karat yang berkilau saat tertimpa cahaya. Atau dilamar tepat di ujung makan malam, dengan cincin bersembunyi di dalam tiramisu. Atau mendadak berlutut di depan sofa, saat menikmati tayangan televisi, in any lazy Sunday. Atau berkongkalikong dengan pemilik giant screen di sebuah stadion bola basket, dilamar persis saat jeda, dengan kamera menyorot dan menampilkan adegan lamaran itu di giant screen tadi.

Hollywood proposal.

Dibuat marah-marah dulu, tapi kemudian dikejutkan dengan lamaran yang romantis.

Dibuat kesel seharian, tapi di ujung hari sebuah cincin berlian tersemat manis di jari.

Dibuat kecewa, tapi malah akhirnya dilamar lalu bahagia.

Hollywood proposal.

Lamaran-lamaran romantis yang membuat banyak perempuan tak kuasa bilang ‘tidak’ tapi malah bahagia sampai menangis.

Nah, sebagai penggemar chick flick movies, mendapatkan Hollywood proposal adalah sekian dari mimpi-mimpi saya. Siapa yang tidak mau dilamar dengan cara seromantis itu? I am just a girl. Hormon-hormon perempuan saya menagih untuk dilimpahi hal-hal yang romantis!

Tapi kamu tahu,

Ketika Ovan melamar saya, it wasn’t a Hollywood proposal. Definitely not.

Tidak ada cincin berlian yang berbelas-belas karat.

Tidak ada lutut yang ditekuk lalu mengucapkan keinginan untuk meminang saya.

Tidak ada cincin yang disimpan di dalam cheese cake, kesukaan saya.

Tidak ada.

Saat itu, kami sedang duduk berdua di Starbucks, menunggu jam tayang bioskop. Dia membeli segelas kopi, lalu kami duduk di sofa pojok. Duduk berdampingan, saling berbagi cerita. Dia bercerita apa saja; mulai mimpi dan cita-citanya. Dia bercerita dengan wajah penuh antusias. Seperti hari-hari sebelumnya.

I really thought it was a regular Sunday, tapi ternyata… it wasn’t.

Mendadak dia bilang, dia ingin menikahi saya.

Mendadak dia bilang, dia punya banyak mimpi, dan dia butuh saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Mendadak dia bilang, dia ingin saya menjadi perempuan terakhir buat dia.

Menemaninya, sampai usia menghabis.

Dia mengucapkannya di tengah-tengah obrolan penting-nggak-penting kami, siang itu. Dan saya terkaget-kaget. Jelas lah, kalau saya kaget. He proposed in the middle of nowhere. Saya bahkan sama sekali nggak punya clue kalau dia bakal melakukannya!

Tidak butuh waktu lebih dari satu menit untuk akhirnya bilang ‘IYA’, karena tidak sampai semenit berikutnya, saya bilang saya juga ingin menjadi istrinya, partner hidupnya, menua bersamanya.

Lantas dia menggenggam jemari saya.

Dan sejak saat itulah, saya bukan lagi sekadar ‘pacar’, tapi saya adalah ‘perempuan yang bakal dia nikahi.’

Di film-film Hollywood, mungkin dia sudah mempersiapkan cincin buat saya, menyelipkannya di jari sesaat setelah saya menyanggupi, dan kami berpelukan bahagia. Tapi karena ini bukan film, cincin itu baru akan tersemat di jari dalam waktu dekat; saat orang tuanya datang ke rumah dan meminta saya secara resmi.

Not like in any chick flick movies ketika semuanya dilakukan dengan spontan.

Karena yang kami lakukan malah penuh dengan perencanaan, jauh dari spontan.

That time I realize.

Meskipun tidak romantis, meskipun tidak ada cincin berlian, meskipun dia tidak berlutut lalu meminta saya menjadi istrinya, tapi hati saya tetap bergetar setiap mengingatnya.

Karena memang, it’s not about the size of the diamond, not about the place, not about how he proposes… Yang lebih penting adalah ‘SIAPA yang melamar’ bukan ‘BAGAIMANA saya dilamar’. Karena ketika seorang lelaki yang benar-benar kamu cintai tiba-tiba menyatakan perasaannya untuk menikahimu segera, percayalah, kamu tidak akan sempat berkata, “Idih, kok gak romantis, sih, ngelamarnya…” Yang kamu lakukan adalah ini; menangis terharu, bahagia, dan penuh cinta.

Mau taruhan sama saya? Ayuk! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s