Taking Chances

Perahu kertas mengingatkanku betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi, cita-cita, yang lama kupendam sendiri
Berdua kubisa percaya
Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan kubisa dengan radarku menemukanmu…
(Perahu Kertas, Dewi Lestari)

 

Bukannya  kebetulan lagu itu pertama saya dengar ketika saya mulai bertemu kembali dengan Ovan; teman sekelas saat SMA, belasan tahun yang lalu.

Dua tahun saya sekelas dengannya dan hidup kami sama sekali tidak bersinggungan; not at all. Sepertinya kami berdua hidup di satu kota dengan kode pos yang berbeda; dia ngapaiiinn, saya ngapain. Bener-bener hidup yang berbeda.

Akhirnya dia kuliah di Jakarta, saya tetap di Surabaya.

Akhirnya dia punya kerjaan di Jakarta, saya bekerja di Surabaya.

Boleh dibilang, hidup kami sama sekali nggak bersinggungan kalau bukan karena Facebook yang kemudian membuat kami ketemu untuk reunian di tahun 2009, persis 11 tahun setelah kami lulus SMA.

I met him again since graduation. Tidak canggung, karena sebelumnya kami sudah saling nyela dan komen-komen gila di wall FB. Di resto Mango Terrace, kami akhirnya ketemu lagi. Saling ketawa, saling foto-foto, but that’s it. Mungkin nggak sampai sejam; karena saya musti pulang dulu dan dia asyik dengan teman-teman kami yang lain. Hm, ini boleh dibilang karena saya nggak punya teman banyak di SMA. Sesegera mungkin saya kepingin pulang sementara temen-temen lain masih lanjut hehorean di Sutos.

Ovan sendiri nggak sadar kalau saya pulang duluan karena emang saya nggak pamit.

Dan kalaupun saya pulang, dia juga nggak ambil pusing.

I was nobody to him.

He was nobody to… um, maaf.

Dia nggak pernah menjadi ‘nobody’ buat saya, karena satu hal yang dia nggak pernah tahu sebelumnya –walaupun sekarang dia udah tau banget- kalau saya sebenernya udah suka banget sama dia sejak ketemu lagi di FB, tahun 2009 itu.

I was totally interested in him.

Gimana nggak?

Dia baik. Pinter. Lucu. Fun to be with.

Saya emang penyuka cowok-cowok pintar. Buat saya, pinter itu seksi. Kalau ditambah ganteng dan baik hati, seksinya nambah berlipat-lipat! Hihi.

Saya emang udah jatuh hati dan menyukai keintiman percakapan kami.

Dia cerita soal pacarnya (later saya cerita soal ini yaa…), saya juga cerita soal pacar saya.

Sama Ovan, saya bisa bicara apa aja. He always knows how to make me laugh. Dia emang lelaki yang bener-bener saya pengenin, tapi saya nggak berani untuk meletakkan harapan terlalu tinggi.

Kenapa?

Ya, karena oh karena, pacarnya saat itu super sexy! Big boobs, great hair, langsing, ayu… Huaduh, jauh banget deh sama saya. Begitu tau kalau dia punya pacar seperti itu, ya mana berani saya ambil nomor antrian? Mending saya nyari yang lain aja, deh. Beneran!

But then, life has a great sense of humour, afterall.

Dia putus.

Patah hati.

Saya putus.

Patah hati.

Kami ketemu lagi, setelah bertahun-tahun membuat janji untuk saling ketemu tiap liburan lebaran tiba sejak tahun 2009 itu. 3 tahun setelah reuni di Mango Terrace itu.

It was August 23, 2012.

Rabu siang.

A lunch date.

Hachi Hachi Hibachi, Supermal.

Seafood yaki soba, volcano roll, es coklat, segelas es teh Tong Tji, lusinan cerita, dan tak terhitung berapa kali kami berbagi tawa.

Saya pikir, dia nggak bakal tertarik sama saya.

Saya pikir, saya cuman perempuan yang bakal jadi teman berbagi ceritanya.

Sampai akhirnya semua pikiran itu terbukti keliru.

Persis seminggu berikutnya, kami sudah resmi pacaran.

Hidup emang penuh kejutan, kan?

Gimana bisa; saya dengan keseleboran saya, dia dengan perfeksionisnya, bisa jadi pacar? Gimana bisa; baru seminggu ketemu lagi, tapi udah berani berjanji untuk selalu sehati?

Well,

I’ll tell you one thing.

You may put your coffee down and listen carefully.

“Bukan soal waktu, atau gimana kami bertemu. Ini adalah soal hati, dan hati tidak mau menunggu.”

If you love someone that much,

And know that he loves you as much,

Saying ‘NO’ isn’t the answer.

Saying ‘let’s give it a try’ is the answer.

Dan kami melakukannya. Dengan berani. Jika jatuh cinta bisa membuat saya bahagia seperti ini, kenapa harus nggak berani?

Love is about taking chances.

If we’re lucky, we will have the best relationship ever in life.

If we aren’t that lucky… well, let’s hope it won’t happen. Haha.

Jadi, jangan kuatir. Yang perlu dilakukan adalah berdoa saja semoga terus beruntung dalam sepanjang perjalanan.. Mudah, kan? 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Taking Chances

  1. saya pacaran hanya 5bulan dgn suami dan langsung mutusin nikah. banyak yang bilang saya buru2/ ambil keputusan karena usia, padahal saya punya hati dan mungkin mereka gak tau kalau hati saya bilang he’s the one. i’m happy for you twin, aku tunggu undangannya 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s