Single and Happy. Really?

Nama saya Lala Purwono.

Penulis kambuhan dan super moody juga prokastinator sejati, tapi beruntung sudah memiliki beberapa buku fiksi dan nonfiksi sejak 2008.

I have a gorgeous life; hidup yang sangat menyenangkan. Berteman dengan banyak orang, hang out dengan manusia-manusia yang punya pemikiran out of the box, yang selalu berhasil membuat saya punya banyak inspirasi untuk tulisan. Hip life; kata orang. Night life yang lumayan okay, kata orang. Other than that, saya juga punya keluarga yang sayang banget sama saya.

Boleh dibilang, hidup saya sudah sempurna; punya pekerjaan bergaji lumayan di kantor, punya side job menulis yang tidak hanya mencukupi dompet tapi passion, punya teman-teman yang seru, punya keluarga yang hangat… apa yang kurang? TIDAK ADA.

Tapi benarkah?

Kalau memang benar tidak ada yang kurang, lantas mengapa seringkali saya merasa sendiri? Hampa? Kesepian?

Saya jadi inget sama lagu Run to You-nya Whitney Houston yang liriknya seperti ini:

“Each day, each day I play the role of someone always in control
But at night I come home and turn the key,
There’s nobody else, no one cares for me…”

Ya. Sepertinya kegempitaan itu mendadak sunyi ketika saya pulang ke rumah, masuk ke kamar. Saya diserbu rasa sunyi yang makin lama makin membuat hati saya ngilu. Sepertinya, gegap gempita itu tersedot seketika saat pintu kamar terbuka dan mengurung saya di dalam situ. Haduh. Kenapa, ya?

Apa yang kurang?

Apa yang membuat saya masih saja kesepian, sementara hidup saya penuh hingar bingar?

 Sejak 2008 saya mencoba mencari tahu kenapa.

Sejak 2008 saya mencoba untuk memahami kenapa saya musti merasa sepi, padahal banyak yang menemani.

Petualangan saya dalam mencari jawaban dari pertanyaan itu berjalan terus dari tahun ke tahun, sampai akhirnya di pertengahan 2012 saya menemukannya; the ultimate answer for the ultimate question ‘kenapa saya masih merasa sepi’.

And I was all surprised to know the answer; jawaban yang selama ini saya cari ternyata sudah ada di depan hidung saya sendiri sejak sekian lama. Jawaban yang saya tunggu bertahun-tahun, dan nyata-nyatanya bertahun-tahun pula dia sudah ada di depan mata saya.

Jawabannya adalah satu ini saja:

Because I haven’t met Ovan.

Ovan.

Teman dekat saya. Lelaki yang berbagi cerita dan tawa. Lelaki yang sebelumnya tak pernah saya duga kelak bakal menjadi teman tidur saya sampai habis usia.

Rupanya, saya masih merasa kesepian karena saya belum menemukan Ovan dan meletakannya di dalam seluruh ruang hati saya.

Kenapa saya begitu yakin kalau dia adalah jawaban dari segala pertanyaan itu?

Oh well…

Karena sejak bertemu dengannya, jatuh cinta padanya, diinginkan dan dibutuhkan olehnya, dan diminta untuk menjadi perempuan terakhir untuk memungkasi petualangan lajangnya, hidup saya tidak lagi gorgeous… in fact, now it’s PERFECT.

Jadi?

Ya emang dia jawabannya… 🙂

Advertisements

One thought on “Single and Happy. Really?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s